Cari Uang - Kisah Sukses WiraUsaha

Sukses Bisnis Perca Kain Batik dengan Modal 500ribu

kisah sukses wirausaha perca kain batik berikut menginspirasi kita memanfaatkan yang ada untuk diolah agar lebih bernilai.

Selain karena harganya pun lebih murah. Ketertarikan untuk mengolah dan mengreasikan limbah-limbah batik bisa mendorong untuk bergelut di bisnis kain perca batik ini.

Leni Mangiri (33), perempuan asal Semarang ini juga memutuskan untuk terjun ke dalam usaha batik sejak sekira delapan tahun yang lalu. Tapi bedanya, bahan baku produk batiknya itu bukanlah berasal dari kain batik jadi nan utuh, melainkan dari limbah batik atau biasa dikenal perca batik.

“Awalnya, karena ketertarikan saya terhadap limbah batik yang terbuang. Kok sayang saja rasanya padahal ini bisa dikreasikan lagi dan menghasilkan uang juga. Lalu saya buat lah perca itu menjadi tas, selimut, sarung bantal, bedcover, dan lain-lain,” tutur perempuan lulusan sarjana hukum Universitas Diponegoro ini, kepada okezone, belum lama ini.

Tak hanya itu, risiko penjualan yang lebih rendah pun semakin meningkatkan optimismenya untuk menggeluti usaha perca ini. Meski target pasar yang menjadi sasarannya adalah masyarakat golong ekonomi menengah rendah, dia pun mengaku tidak masalah. Karena justru segmen pasar itu lah menurutnya lebih sesuai dengan jenis produk jualannya dan lebih banyak peminatnya.

“Kalau kain perca itu kan harganya lebih murah, tidak semahal kain batik jadi, sehingga risiko penjualannya pun lebih sedikit. Apalagi produk perca ini kan target pasar dan peminatnya memang banyak datang dari masyarakat kelas menengah rendah, jadi tidak masalah,” ungkapnya.

Mula usahanya, ceritanya, dia hanya bermodalkan satu mesin jahit dan empat karyawan, serta uang Rp500 ribu. Dari modal tersebut, menurutnya dia bisa memproduksi 50-100 buah (pieces) produk dengan perolehan laba dua kali lipatnya. Namun untuk mencetak laba tersebut, dia mengakui itu tidak lah mudah. Butuh proses yang cukup lama sekira setengah tahun lamanya untuk mencapai laba tersebut.

 

“Labanya memang dua kali lipat modalnya, tapi prosesnya lama, sekira setengah tahun. Ini karena masih belum ada yang mengenal produk kami,” ujarnya.

Namun kendala di awal tersebut tidak membuatnya patah semangat. Dia pun terus mempromosikannya melalui rekan-rekannya, dari mulut ke mulut.

Bahkan dia pun punya inisiatif untuk mendaftarkan produknya ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan Semarang. Dari sejumlah informasi Dinas Perindag inilah menurutnya usahanya itu kian berkembang.

“Awalnya saya ikut diajak berpartisipasi pada bazar yang diselenggarakan Dinas Perindag. Biaya stand pun pada awalnya saya masih dibiayai Dinas Perindag. Dari situ lah produk saya mulai dikenal. Lalu, saya makin banyak dapat informasi tentang bazar-bazar, lalu saya pun ikut, tapi sudah dengan biaya sendiri,” bebernya.

Kerja kerasnya itu kini bisa dikatakan telah membuahkan hasil. Sekarang, usaha kelolaannya itu telah memiliki 20 orang karyawan dengan omzet per tahun mencapai Rp120 juta. Produk yang dihasilkannya pun saat ini sudah terdiri dari 50 jenis (item) dengan jumlah berbeda-beda, bisa mencapai ratusan buah, tiap item-nya.

“Omzet dalam setahun bisa mencapai Rp120 juta. Penghasilan terbesar biasanya diperoleh pada masa sebelum lebaran, karena produksi kami genjot dan lebihkan dua kali lipat, sehingga omsetnya bisa dua kali lipat dibanding bulan biasa. Tapi setelah lebaran anjlok lagi karena tidak ada pesanan. Dua bulan setelah lebaran baru normal lagi,” paparnya.

Meski sudah meraup omzet ratusan juta, dia mengaku kini usahanya itu justru makin memiliki tantangan besar. Pasalnya, menurutnya kini makin banyak pengusaha kain perca, sehingga harga jual pun makin kompetitif dan keuntungan pun makin berkurang.

“Makin sekarang makin banyak pengusaha kain perca, apalagi harga kain perca di pabrik-pabrik juga makin mahal, sehingga kami pun harus berebutan memperolehnya. Tapi saya juga tidak bisa sembarang menaikkan harga produk karena pembeli suka protes, paling keuntungan yang coba ditekan, dari yang biasanya mencapai laba 40-45 persen, sekarang hanya 20-35 persen,” curhatnya.

Untuk itu, lanjutnya, dia pun harus terus berupaya mengembangkan inovasi baru tiap produknya dan kualitas produk tetap dijaga, bahkan ditingkatkan.

“Ya, tetap optimis saja lah, tetap lakukan pekerjaan sebaik mungkin. Tapi harus tetap memberi tahu konsumen bahwa kualitas produk kita berbeda, meskipun harga lebih tinggi dibanding produk lain,” pungkasnya